INFORMASI TENTANG KESEHATAN DAN PENYAKIT

Salam,

Halo kami merupakan Blogger yang akan memberikan Informasi Tentang Kesehatan dan Berbagai Penyakit sehingga dapat memberikan pengetahuan dan ilmu tentang penyakit agar dapat hidup dengan lebih sehat.

Materi-materi yang akan kami berikan antara lain:

1. Acara-acara ilmiah/seminar kesehatan.

2. Artikel kesehatan

3. Rekam medis

4. Teknologi Informatika Kesehatan

5. Rekam Medis

6. Lembaga Kesehatan baik Rumah Sakit, Puskesmas, Sekolah Kesehatan dan Perguruan Tinggi.

7. Produk kesehatan (Alat kesehatan, makanan kesehatan dan produk lain).

8. Sistem Pakar

9. Sistem Pendukung Keputusan Klinis

10. Sistem Informasi kesehatan

11. Kesehatan Wisata

12. Kesehatan Kerja

13. Tips-tips kesehatan

Kami sangat mengharapkan bagi para pembaca untuk memberikan kritik dan saran untuk memperbaiki blog ini.

Apabila ada penulis yang ingin memberikan artikel yang orisinil dan bukan copy paste untuk blog ini silahkan email ke: sugengmedica@yahoo.com

Salam,

Hary

Advertisements

KURSUS OSTEOPOROSIS & DENSITOMETRI TULANG 2012

 

LATAR BELAKANG

Pelayanan kesehatan diseluruh dunia akan menghadapi tekanan biaya yang berat pada 10-20 tahun mendatang, karena peningkatan yang luar biasa dalam jumlah orang yang terkena penyakit muskuloskeletal. Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO), bersama PBB menyatakan bahwa beberapa ratus juta orang telah menderita karena penyakit sendi dan tulang, dan angka tersebut diperkirakan akan meningkat tajam karena banyak jumlah orang yang berumur lebih dari 50 tahun akan meningkat pada tahun 2020. Osteoporosis merupakan silent diseases yang tidak memiliki gejala yang spesifik, tapi berisiko terhadap timbulnya patah tulang (fraktur). Pada tahun 2012, PB PEROSI (Perhimpunan Osteoporosis Indonesia) bekerjasama dengan Pengurus Besar Perhimpunan Reumatologi Indonesia (PB IRA) dan Pengurus Besar Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PB PERKENI) akan menyelenggarakan Kursus Osteoporosis dan Densitometri Tulang, yang akan dilaksanakan pada tanggal 29-30 September 2012 di Hotel Acacia Jakarta. Berbagai pakar dalam bidang Osteoporosis dan Densitometri Tulang akan memberikan kuliah dan menjadi narasumber dibidangnya. Diharapkan acara ini akan meningkatkan pengetahuan Osteoporosis bagi sejawat sekalian sehingga dapat ikut menunjang keberhasilan tujuan Dekade Tulang dan Sendi di Indonesia.

 

TARGET PESERTA

Spesialis Ilmu Penyakit Dalam, Konsultan Reumatologi, Konsultan Alergi Imunologi Klinik, Spesialis Bedah Ortopedi, Spesialis Rehabilitasi Medik, Spesialis Ilmu Penyakit Saraf, Dokter Umum. Total peserta yang akan hadir diperkirakan 60 orang.

TEMPAT & WAKTU

– Hotel Acacia, Jakarta

– Tanggal 29-30 September 2012

Hepatitis A

Hepatitis A merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Hepatitis A (HAV). Penyakit hepatitis A dapat dengan mudah ditularkan karena  virus ini dapat ditularkan oleh penderita melalui makanan/minuman  yang tercemar virus hepatitis A dan karena faktor kebersihan lingkungan yang jelek. Penyakit ini sangat mudah tersebar terutama di lingkungan yang kurang higienis.  Penyakit Hepatitis A memiliki gejala : Masa inkubasi: terjadi mulai dari proses masukknya virus ke manusia, proses inkubasi  terjadi selama 18-50 hari tergantung dari kondisi seseorang dan virulensi virus. Setelah virus masuk maka akan terjadi gejala  prodromalantara 4 hari sampai 1 minggu atau lebih. Pada kondisi ini seseorang yang terinfeksi virus hepatitis A akan mengalami demam,  sakit kepala, gejala seperti flu, nafsu makan menurun,  mual, letih, dan rasa tidak nyaman di perut  bagian kanan atas, dan didapatkan pembesaran hati ringan dan yang nyeri tekan. Gejala yang sangat jelas adalah kekuningan pada kulit, selaput mata, urin berwarna kekuningan seperti air teh, feses kadang berwarna pucat atau seperti dempul.. penyakit ini bila  dilakukan perawatan, nutrisi dan istirahat dengan baik akan segera mengalami penyembuhan.. Untuk mencegah penyakit ini dapat dilakukan dengan pola hidup yang sehat dan menjaga kebersihan terutama jangan jajan ditempat yang kurang atau tidak  higienis.

Sumber: http://majalahkesehatan.com/tanya-jawab-hepatitis-a/

PIT Penyakit Dalam 2012 FK UGM/RSUP Dr. Sardjito

Pertemuan Ilmiah Ilmu Penyakit Dalam FK UGM/RSUP. Dr. Sardjito

Topik : Bidang Endokrinologi, Nefrologi dan semua bidang Penyakit Dalam

Waktu  : 29-30 Desember 2012

Tempat : Hotel Ina Garuda

Pendaftaran:

Biaya Pendaftaran

Sebelum tanggal 30 Juni 2012

Simposium dan Workshop

Dokter Umum Rp. 1.250.000,-

Dokter Spesialis Rp. 2.000.000,-

Paramedis/Apoteker/Umum Rp. 1.250.000,-

Setelah tanggal 30 Juni 2012

Simposium dan Workshop

Dokter Umum Rp. 1.500.000,-

Dokter Spesialis Rp. 2.250.000,-

Paramedis/Apoteker/Umum Rp. 1.500.000,-

Kontak Person

Telp: 0274-553119

Fax: 0274-553120

PENGKAJIAN DAN RENCANA KEPERAWATAN HYDROCEPHALUS

 

Anamnese

Riwayat penyakit / keluhan utama

Muntah, gelisah nyeri kepala, lethargi, lelah apatis, penglihatan ganda, perubahan pupil, kontriksi penglihatan perifer.

Riwayat Perkembangan

Kelahiran : prematur. Lahir dengan pertolongan, pada waktu lahir menangis keras atau tidak.

Kekejangan: Mulut dan perubahan tingkah laku.

Apakah pernah terjatuh dengan kepala terbentur.

Keluhan sakit perut.

Pemeriksaan Fisik

Inspeksi :

1)      Anak dapat melihat keatas atau tidak.

2)      Pembesaran kepala.

3)      Dahi menonjol dan mengkilat serta pembuluh dara terlihat jelas.

Palpasi

1)      Ukur lingkar kepala : Kepala semakin membesar.

2)      Fontanela : Keterlamabatan penutupan fontanela anterior sehingga fontanela tegang, keras dan sedikit tinggi dari permukaan tengkorak.

Pemeriksaan Mata

1)      Akomodasi.

2)      Gerakan bola mata.

3)      Luas lapang pandang

4)      Konvergensi.

5)      Didapatkan hasil : alis mata dan bulu mata keatas, tidak bisa melihat keatas.

6)      Stabismus, nystaqmus, atropi optic.

Observasi Tanda –tanda vital

Didapatkan data – data sebagai berikut :

  1. Peningkatan sistole tekanan darah.
  2. Penurunan nadi / Bradicardia.
  3. Peningkatan frekwensi pernapasan.
  4. Diagnosa Klinis :
    1. Transimulasi kepala bayi yang akan menunjukkan tahap dan lokalisasi dari pengumpulan cairan banormal. ( Transsimulasi terang )
    2. Perkusi tengkorak kepala bayi akan menghasilkan bunyi “ Crakedpot “ (Mercewen’s Sign)
    3. Opthalmoscopy : Edema Pupil.
    4. CT Scan Memperlihatkan (non – invasive) type hidrocephalus dengan nalisisi komputer.
    5. Radiologi : Ditemukan Pelebaran sutura, erosi tulang intra cranial

RENCANA KEPERAWATAN

Diagnosa Keperawatan

NOC

NIC

Penurunan kapasitas adaptif intrakranial b/d peningkatan jumlah, berkurangnya absorbsi maupun blokade aliran CSF. NOC: Neurologic StatusSetelah mendapatkan asuhan keperawatan selama 6 x 24 jam, klien menunjukkan status neurologi dengan kriteria hasil :

  1. Fungsi kesadaran neurologi : compos mentis
  2. Tekanan intrakranial terkontrol , dan tanda peningkatan tekanan berkurang
  3. Pola nafas dalam batas normal
  4. Tanda vital dalam batas normal
  5. Nyeri kepala berkurang
  6. Klien anak dapat tidur dengan nyaman
Cerebral Oedema Management

  1. Memposisikan pasien head up 30 derajat  atau lebih
  2. Memberikan lingkungan yang nyaman dan menurunkan srimulus lingkungan
  3. Menyarankan klien untuk meningkatkan istirahat dan monitor pemenuhan istirahatnya
  4. Menyarankan pada keluarga untuk tetap mengorientasikan dan berkomunikasi dengan klien
  5. Memberikan diuretik osmotik
  6. Monitor peningkatan TIK
  7. Menyarankan managemen pencegahan aspirasi bila klien mutah

Neurologic Monitoring

  1. Monitor ukuran pupil, kesimetrisan dan reaksi terhadap cahaya
  2. Monitor level kesadaran
  3. Monitor level orientasi klien
  4. Monitor GCS (gunakan pediatric jika klien berusia anak)
  5. Monitor vital sign
  6. Meminimalkan aktivitas intervensi yang meningkatkan peningkatan TIK
  7. Monitor status respirasi

 

Nyeri akut b/d agen injury (fisik : benturan dan dilatasi dari ventrikel otak)

Setelah mendapatkan asuhan keperawatan selama 6 x 24 jam, klien memiliki kontrol nyeri dengan dengan kriteria hasil :

  1. Keluarga mengenali penyebab nyeri
  2. Penggunaan teknik pengurang nyeri dengan teknik nonfarmakologi (distraksi, sentuhan, relaksasi, guided imagery)

dengan tepat

  1. Penggunaan analgesik dengan tepat
  2. Melaporkan nyeri terkontrol

Selain itu klien memiliki kontrol nyeri dengan kriteria hasil :

  1. Tidak ada ekspresi wajah nyeri
  2. Tidak ada gelisah yang muncul
  3. Tanda vital dalam batas normal
  4. Melaporkan level nyeri berkurang dengan

Skala nyeri kurang dari 3

Pain management

  1. Memberikan pengkajian nyeri secara komprehensif
  2. Meyakinkan pasien mendapatkan analgesik yang tepat
  3. Mengkaji pengaruh nyeri pada kualitas hidup
  4. Memberikan edukasi pada klien dan keluarga tentang nyeri
  5. Memberikan edukasi tentang teknik non farmakologi pengurang nyeri
  6. Monitor tanda vital
  7. Monitor nyeri
Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan memasukkan makanan : mual mutah Setelah mendapatkan asuhan keperawatan selama 4 x 24 jam , klien memiliki status nutrisi : intake cairan dan makanan dengan kriteria hasil :

  1. Intake cairan adekuat
  2. Intake makanan adekuat
  3. Tidaka ada mual mutah
Nutrition Management

  1. Memberikan edukasi tentang diit dan pemenuhan ’
  2. Monitor asupan diit dan cairan , mual mutah
  3. Meyakinkan pemberian diit yang tepat
Kurang pengetahuan tentang proses penyakit dan treatment prosedur b/d tidak familiar dengan kondisi penyakit Setelah mendapatkan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam , klien memiliki pengetahuan tentang proses penyakit , dengan kriteria hasil .

  1. Klien familiar dengan nama penyakit
  2. Klien mengetahui penyebab, tanda, dan gejala

Selain itu klien mengetahui tentang regimen treatmen yang diberikan dengan kriteria hasil :

  1. Klien mengetahui dan mendemonstrasikan regimen positioning head up 30 derajat
  2. Klien mengetahui rencana pengobatan maupun pembedahan (VP shunt ) yang direncanakan
Teaching Disease Process

  1. Mengedukasikan nama penyakit yang dialami klien
  2. Menyebabkan penyebab, tanda dan gejala dari penyakit

 

Teaching Procedure /Treatment

  1. Memberikan edukasi tentang posisi head up 30 derajat
  2. Memberikan edukasi tentang regimen pembedahan (VP shunt )

 

 

Risiko infeksi b/d adanya prosedur invasive NOC : v  Immune Statusv  Knowledge : Infection control

v  Risk control

Kriteria Hasil :

v  Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi

v  Mendeskripsikan proses penularan penyakit, factor yang mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya,

v  Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi

v  Jumlah leukosit dalam batas normal

v  Menunjukkan perilaku hidup sehat

Kontrol infeksi :

  • Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain.
  • Batasi pengunjung bila perlu dan anjurkan u/ istirahat yang cukup
  • Anjurkan keluarga untuk cuci tangan sebelum dan setelah kontak dengan klien.
  • Gunakan sabun anti microba untuk mencuci tangan.
  • Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan.
  • Gunakan baju, masker dan sarung tangan sebagai alat pelindung.
  • Pertahankan lingkungan yang aseptik selama pemasangan alat.
  • Lakukan perawatan luka dan dresing infus,DC setiap hari.
  • Tingkatkan intake nutrisi. & cairan yang adekuat
  • Berikan antibiotik sesuai program.

Proteksi terhadap infeksi

  • Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal.
  • Monitor hitung granulosit dan WBC.
  • Monitor kerentanan terhadap infeksi.
  • Pertahankan teknik aseptik untuk setiap tindakan.
  • Inspeksi kulit dan mebran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase.
  • Inspeksi keadaan luka dan sekitarnya
  • Monitor perubahan tingkat energi.
  • Dorong klien untuk meningkatkan mobilitas dan latihan.
  • Instruksikan klien untuk minum antibiotik sesuai program.
  • Ajarkan keluarga/klien tentang tanda dan gejala infeksi.dan melaporkan kecurigaan infeksi.

Penulis: Lisa Permitasari, S.Kep

DAFTAR PUSTAKA

Scott , et al., 2010. Hydrocephalus, Diakses 4 Januari 2012, Website URL http://www.childrenshospital.org/az/Site1116/mainpageS1116P0.html

Ianelli, 2003. Hydrocephalus in Childre. Diakses 4 Januari 2012. Website URLhttp://pediatrics.about.com/cs/conditions/a/hydrocephalus.htm

Kaneshiro, 2009. Hydrocephalus . Diakses 4 Januari 2012 Website URL of this page: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001571.htm

Johnson M, Maas M, Moorhead S., Swanson, E. 2008. IOWA Outcome Project: Nursing Outcomes Classification (NOC). 4th ed. Missouri; Mosby, Inc

Mc Closkey, JC., Butcher, HK.,  Bulechek GM. 2008. IOWA Outcome Project: Nursing Interventions Classification (NIC). 5th ed.Missouri; Mosby, Inc

North American Nursing Diagnosis Association. 2010. Nursing Diagnoses : Definition & Classification 2009-2011. Philadelphia.

PENCEGAHAN HYDROCEPHALUS

 

Pencegahan Primer

Pencegahan primer adalah upaya memodifikasi faktor risiko atau mencegah berkembangnya faktor risiko, sebelum dimulainya perubahan patologis, dilakukan pada tahap suseptibel dan induksi penyakit, dengan tujuan mencegah atau menunda terjadinya kasus baru penyakit. Pada kasus hydrocephalus pencegahan dapat dilakukan dengan:

  1. Pada kehamilan perawatan prenatal yang teratur secara signifikan dapat mengurangi risiko memiliki bayi prematur, yang mengurangi risiko bayi mengalami hydrocephalus
  2. Untuk penyakit infeksi, setiap individu hendaknya memiliki semua vaksinasi dan melakukan pengulangan vaksinasi yang direkomendasikan.
  3. Meningitis merupakan salah satu penyebab terjadinya hydrocephalus.  Untuk itu perlu dilakukan penyuluhan tentang pentingnya vaksin meningitis bagi orang – orang yang berisiko menderita meningitis. Vaksinasi dianjurkan untuk individu yang berpergian ke luar negeri, orang dengan gangguan sistem imun dan pasien yang menderita gangguan limpa.
  4. Mencegah cedera kepala
  5. Pencegahan Sekunder

Hydrocephalus merupakan salah satu dari kelainan kongenital. Untuk mewaspadai adanya kelainan kongenital maka diperlukan pemeriksaan fisik, radiologik, dan laboratorium untuk menegakkan diagnosa kelainan kongenital setelah bayi lahir. Disamping itu, dengan kemajuan teknologi kedokteran suatu kelainan kongenital kemungkinan telah diketahui selama kehidupan janin seperti adanya diagnosa prenatal atau antenatal.

Pada hydrocephalus, diagnosa biasanya mudah dibuat secara klinis. Pada anak yang lebih besar kemungkinan hydrocephalus diduga bila terdapat gejala dan tanda tekanan intrakranial yang meninggi. Tindakan yang dapat membantu dalam menegakkan diagnosis ialah transluminasi kepala, ultrasonogafi kepala bila ubunubun besar belum menutup, foto Rontgen kepala dan tomografi komputer (CT Scan). Pemeriksaan untuk menentukan lokalisasi penyumbatan ialah dengan menyuntikkan zat warna PSP ke dalam ventrikel lateralis dan menampung pengeluarannya dari fungsi lumbal untuk mengetahui penyumbatan ruang subaraknoid. Sebelum melakukan uji PSP ventrikel ini, dilakukan dahulu uji PSP ginjal untuk menentukan fungsi ginjal. Ventrikulografi dapat dilakukan untuk melengkapi pemeriksaan. Namun dengan adanya pemeriksaan CT Scan kepala, uji PSP ini tidak dikerjakan lagi

  1. Pengobatan

Penanganan hydrocephalus telah semakin baik dalam tahun-tahun terakhir ini, tetapi terus menghadapi banyak persoalan. Idealnya bertujuan memulihkan keseimbangan antara produksi dan resorpsi CSF. Beberapa cara dalam pengobatan hydrocephalus yaitu:

1)      Terapi Medikamentosa

Hydrocephalus dengan progresivitas rendah dan tanpa obstruksi pada umumnya tidak memerlukan tindakan operasi. Dapat diberi asetazolamid dengan dosis 25-50 mg/kg BB. Asetazolamid dalam dosis 40-75 mg/kg 24 jam mengurangi sekitar sepertiga produksi CSF, dan terkadang efektif pada hydrocephalus ringan yang berkembang lambat. Pada keadaan akut dapat diberikan manitol. Diuretika dan kortikosteroid dapat diberikan, meskipun hasilnya kurang memuaskan

2)      Operasi

Operasi berupa upaya menghubungkan ventrikulus otak dengan rongga peritoneal, yang disebut ventriculo-peritoneal shunt. Tindakan ini pada umumnya ditujukan untuk hydrocephalus non-komunikans dan hydrocephalus yang progresif. Setiap tindakan pemirauan (shunting) memerlukan pemantauan yang berkesinambungan oleh dokter spesialis bedah saraf.

Pada Hydrocephalus Obstruktif, tempat obstruksi terkadang dapat dipintas (bypass). Pada operasi Torkildsen dibuat pintas stenosis akuaduktus menggunakan tabung plastik yang menghubungkan tabung plastik yang menghubungkan 1 ventrikel lateralis dengan sistem magna dan ruang subaraknoid medula spinalis; operasi tidak berhasil pada bayi karena ruangan- ruangan ini belum berkembang dengan baik

  1. Pencegahan Tersier

Pencegahan tersier adalah upaya pencegahan progresi penyakit ke arah berbagai akibat penyakit yang lebih buruk, dengan tujuan memperbaiki kualitas hidup pasien. Pada penderita hydrocephalus pencegahan tersier yang dapat dilakukan yaitu dengan pemeliharaan luka kulit terhadap kontaminasi infeksi dan pemantauan kelancaran dan fungsi alat shunt yang dipasang. Tindakan ini dilakukan pada periode pasca operasi. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi shunt seperti infeksi, kegagalan mekanis, dan kegagalan fungsional yang disebabkan oleh jumlah aliran yang tidak adekuat.

Infeksi pada shunt meningkatkan resiko akan kerusakan intelektual, lokulasi ventrikel dan bahkan kematian. Kegagalan mekanis mencakup komplikasikomplikasi seperti: oklusi aliran di dalam shunt (proksimal, katup atau bagian distal) diskoneksi atau putusnya shunt, migrasi dari tempat semula, tempat pemasangan yang tidak tepat. Kegagalan fungsional dapat berupa drainase yang berlebihan atau malah kurang lancarnya drainase. Drainase yang terlalu banyak dapat menimbulkan komplikasi lanjut seperti terjadinya efusi subdural, kraniosinostosis, lokulasi ventrikel, hipotensi ortostatik.

Penulis: Lisa Permitasari, S.Kep

Informasi lain dalam bidang kesehatan

DAFTAR PUSTAKA

Scott , et al., 2010. Hydrocephalus, Diakses 4 Januari 2012, Website URL http://www.childrenshospital.org/az/Site1116/mainpageS1116P0.html

Ianelli, 2003. Hydrocephalus in Childre. Diakses 4 Januari 2012. Website URLhttp://pediatrics.about.com/cs/conditions/a/hydrocephalus.htm

Kaneshiro, 2009. Hydrocephalus . Diakses 4 Januari 2012 Website URL of this page: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001571.htm

Johnson M, Maas M, Moorhead S., Swanson, E. 2008. IOWA Outcome Project: Nursing Outcomes Classification (NOC). 4th ed. Missouri; Mosby, Inc

Mc Closkey, JC., Butcher, HK.,  Bulechek GM. 2008. IOWA Outcome Project: Nursing Interventions Classification (NIC). 5th ed.Missouri; Mosby, Inc

North American Nursing Diagnosis Association. 2010. Nursing Diagnoses : Definition & Classification 2009-2011. Philadelphia.

GAMBARAN KLINIS HYDROCEPHALUS

Gambaran klinik hydrocephalus dipengaruhi oleh umur penderita, penyebab, dan lokasi obstruksi. Gejala – gejala yang menonjol merupakan refleksi hipertensi intrakranial. Rincian gambaran klinik adalah sebagai berikut:

Neonatus

Gejala hydrocephalus yang paling umum dijumpai pada neonatus adalah iritabilitas. Sering kali anak tidak mau makan dan minum, kadang – kadang kesadaran menurun ke arah letargi. Anak kadang – kadang muntah, jarang yang bersifat proyektil. Pada masa neonatus ini gejala – gejala lainnya belum tampak, sehingga apabila dijumpai gejala – gejala seperti tersebut di atas, perlu dicurigai adanya kemungkinan hydrocephalus. Dengan demikian dapat dilakukan pemantauan secara teratur dan sistematik.

Pada anak di bawah 6 tahun, termasuk neonatus, akan tampak pembesaran kepala karena sutura belum menutup secara sempurna. Pembesaran kepala ini harus dipantau dari waktu ke waktu, dengan mengukur lingkar kepala. Fontanela anterior tampak menonjol, pada palpasi terasa tegang dan padat. Pemeriksaan fontanela ini harus dalam situasi yang santai, tenang, dan penderita dalam posisi berdiri atau duduk tegak. Tidak ditemukannya fontanela yang menonjol bukan berarti bahwa tidak ada hydrocephalus. Pada umur 1 tahun, fontanela anterior sudah menutup atau oleh karena rongga tengkorak yang melebar maka tekanan intrakranial secara relatif akan mengalami dekompresi.

Vena – vena di kulit kepala dapat sangat menonjol, terutama apabila bayi menangis. Peningkatan tekanan intrakranial akan mendesak darah vena dari alur normal di basis otak menuju ke sistem kolateral dan saluran – saluran yang tidak mempunyai klep. Mata penderita hydrocephalus memperlihatkan gambaran yang khas, yang disebut sebagai setting-sun sign, skera yang berwarna putih akan tampak di atas iris. Paralisis nervus abdusens, yang sebenarnya tidak menunjukkan lokasi lesi, sering dijumpai pada anak yang berumur lebih tua dan pada dewasa. Kadang – kadang terlihat adanya nistagmus dan strabismus. Pada hydrocephalus yang sudah lanjut dapat terjadi edema papil atau atrofi papil. Tidak adanya pulsasi vena retina merupakan tanda awal hipertensi intrakranial yang khas.

Dewasa

Gejala yang paling sering dijumpai adalah nyeri kepala. Sementara itu, gangguan visus, gangguan motorik/berjalan, dan kejang terjadi pada 1/3 kasus hydrocephalus pada usia dewasa. Pemeriksaan neurologik pada umumnya tidak menunjukkan kelainan, kecuali adanya edema papil dan/atau paralisis nervus abdusens.

Penulis : Lisa Permitasari, S.Kep

 

DAFTAR PUSTAKA

Scott , et al., 2010. Hydrocephalus, Diakses 4 Januari 2012, Website URL http://www.childrenshospital.org/az/Site1116/mainpageS1116P0.html

Ianelli, 2003. Hydrocephalus in Childre. Diakses 4 Januari 2012. Website URLhttp://pediatrics.about.com/cs/conditions/a/hydrocephalus.htm

Kaneshiro, 2009. Hydrocephalus . Diakses 4 Januari 2012 Website URL of this page: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001571.htm

Johnson M, Maas M, Moorhead S., Swanson, E. 2008. IOWA Outcome Project: Nursing Outcomes Classification (NOC). 4th ed. Missouri; Mosby, Inc

Mc Closkey, JC., Butcher, HK.,  Bulechek GM. 2008. IOWA Outcome Project: Nursing Interventions Classification (NIC). 5th ed.Missouri; Mosby, Inc

North American Nursing Diagnosis Association. 2010. Nursing Diagnoses : Definition & Classification 2009-2011. Philadelphia.