Obesitas (Obesity)

Obesitas merupakan penimbunan jaringan lemak pada tubuh manusia secara berlebihan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara asupan atau masukan energi (makanan) pada tubuh manusia tetapi energi yang telah masuk sebagian besar tidak digunakan untuk aktivitas kehidupan sehingga banyak energi yang disimpan dalam tubuh. Beberapa faktor penyebab obesitas antara lain: faktor keturunan dan lingkungan.  Gaya hidup yang tidak sehat misalnya dapat kita lihat pola makan pada saat ini yaitu makanan yang banyak dijual makanan berkalori dan berlemak yang tinggi dan diikuti dengan gaya hidup saat ini yang lebih banyak duduk dan melalukan  aktivitas fisik yang kurang sehingga terjadi penimbunan lemak di tubuh. Jumlah penderita obesitas semakin meningkat dengan perubahan pola hidup dan pola makan yang kurang seimbang antara sayuran, buah,  serat dan makanan yang berkarbohidrat dan berlemak tinggi disertai dengan aktivitas fisik yang kurang. Obesitas merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan terjadinya berbagai penyakit antara lain: diabetes melitus tipe 2, penyakit jantung koroner, darah tinggi dan kanker. Untuk mencegah meningkatnya kejadian penyakit tersebut maka kita harus memulai dengan gaya hidup sehat yaitu dengan mengkonsumsi makanan yang seimbang antara karbohidrat, protein, lemak, vitami dan mineral dan melakukan olah raga yang rutin.

 

Daftar Pustaka

Jazet, I.M., Pijl, H., Meinders, A.E. 2003. Adipose Tissue as An Endocrine Organ: Impact on Insulin Resistance. Neth J Med; 61: 194-212

Ling Lu, H., Wang Wei, H., Wen Yu, Xun Zhang, M., Hua Lin, H. 2006. Roles of Adipocyte Derived Hormone Adiponectin and Resistin in Insulin Resistance of Type 2 Diabetes. World J Gastroenterol; 12(11): 1747-51

World Health Organization. 1999. Obesity: Preventing and Managing the Global Epidemic. Report of A WHO Consultation. World Health Organization, Geneva; 894-8

Hypertension

Hypertension is condition that blood pressure diastolic more than 140 mmHg,  sistolic more 90 mmHg or both. If the diastolic  blood pressure more than  120 mmHg and  diastolic more 80 but  diastolic blood pressure less than  140 mmHg and  diastolic more 90 or both  is pre-hypertension.

Secondary hypertension is hipertension caused by chronic kidney disease,  adrenal gland disorders, preeclampsia pregnancy, Medication of birt control pills, diet pills, renal artery stenosis and hyperparathyroidism.

Causes

The factors can affect of blood pressure are volume of  water and salt that input to the body, Condition of  kidneys, blood vessels, nervous system and Body hormones level.

References

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000468.htm

Hemoptisis atau Batuk disertai Darah

Batuk merupakan salah satu gejala dari penyakit paru atau saluran pernafasan. Batuk yang kronik kadang menimbulkan perdarahan pada saluran pernafasan yang disebut Hemoptisis. Jadi hemoptisis adalah  batuk yang disertai darah dari paru-paru atau saluran bronkial  karena perdarahan pulmoner atau bronkial. Jumlah darah yang keluar pada saat batuk kadang sangat sedikit sampai banyak. Hemoptisis  dikelompokan menjadi beberapa kelompok berdasarkan jumlah darah yang keluar saat batuk yaitu: Hemoptisis ringan bila darah yang keluar pada saat batuk < 40 ml per hari  yang dapat dilihat sebagai  garis atau bercak darah pada sputum Hemoptisis sedang bila darah yang keluar baersama batuk  30-200 ml per hari. Hemoptisis berat bila darah yang keluar pada saat batuk 200-600 ml atau lebih dalam 48 jam atau terjadi ketidakstabilan hemodinamik. Penyebab hemoptisis antara lain TB, PPOK, Keganasan Paru atau saluran paru dan penyakit paru dan saluran pernafasan.

Sumber:

Bidwell JL, Pachner RW. Hemoptysis: diagnosis and management. Am Fam Physician. 2005;72 (7):1253-1260.

Broomhead C. Hemoptysis. Medicine Update, Volume 15 No. 7, 2007.

Menurunkan kolesterol

Kolesterol  bagi masyarakat sudah sangat mengetahui efek yang ditimbulkan. Kolesterol banyak menimbulkan gangguan terutama terjadinya plak di pembuluh darah. Kolesterol  telah banyak mengakibatkan orang mengalami penyakit jantung dan pembuluh darah. Gaya hidup saat ini banyak yang tidak memperhatikan makanan yang sehat karena  kandungan makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat banyak mengadung kolesterol sehingga pada jangka waktu yang lama akan meningkatkan terjadinaya penyakit jantung. Oleh karena itu masyarakat dapat merubah gaya hidup terutama dalam mengkonsumsi makanan menjadi makanan yang sehat sehingga dapat mencegah peningkatan kolesterol darah atau menurunkan kolesterol darah.  Untuk menurunkan kolesterol saat ini sudah tersedia obat penurun kolesterol tetapi  obat ini tentu memiliki efek samping yang tidak diharapkan sehingga  masyarakat dapat  menurunkan kolesterol dengan membatasi konsumsi makanan yang banyak mengandung kolesterol misalnya kuning telur, otak, seafood dan protein hewani lainnya.  Pengaturan diet yang bagus yaitu banyak mengkonsumsi kedelai, kacang-kacangan, oat dan mengkonsumsi buah-buahan misalnya  papaya pisang  akan mampu menurunkan kadar kolesterol  darah.

PENATALAKSANAAN PPOK

Pathogenesis Penatalaksanaan (Medis)

  1. Pencegahan : Mencegah kebiasaan merokok, infeksi, dan polusi udara
  2. Terapi eksaserbasi akut di lakukan dengan :
    1. Antibiotik, karena eksaserbasi akut biasanya disertai infeksi
      Infeksi ini umumnya disebabkan oleh H. Influenza dan S. Pneumonia, maka digunakan ampisilin 4 x 0.25-0.56/hari atau eritromisin 4×0.56/hari Augmentin (amoksilin dan asam klavulanat) dapat diberikan jika kuman penyebab infeksinya adalah H. Influenza dan B. Cacarhalis yang memproduksi B. Laktamase Pemberiam antibiotik seperti kotrimaksasol, amoksisilin, atau doksisiklin pada pasien yang mengalami eksaserbasi akut terbukti mempercepat penyembuhan dan membantu mempercepat kenaikan peak flow rate. Namun hanya dalam 7-10 hari selama periode eksaserbasi. Bila terdapat infeksi sekunder atau tanda-tanda pneumonia, maka dianjurkan antibiotik yang kuat.
    2. Terapi oksigen diberikan jika terdapat kegagalan pernapasan karena hiperkapnia dan berkurangnya sensitivitas terhadap CO2
    3. Fisioterapi membantu pasien untuk mengelurakan sputum dengan baik.
    4. Bronkodilator, untuk mengatasi obstruksi jalan napas, termasuk di dalamnya golongan adrenergik b dan anti kolinergik. Pada pasien dapat diberikan salbutamol 5 mg dan atau ipratopium bromida 250 mg diberikan tiap 6 jam dengan nebulizer atau aminofilin 0,25 – 0,56 IV secara perlahan.
  3. Terapi jangka panjang di lakukan :
    1. Antibiotik untuk kemoterapi preventif jangka panjang, ampisilin 4×0,25-0,5/hari dapat menurunkan kejadian eksaserbasi akut.
    2. Bronkodilator, tergantung tingkat reversibilitas obstruksi saluran napas tiap pasien maka sebelum pemberian obat ini dibutuhkan pemeriksaan obyektif dari fungsi faal paru.
    3. Fisioterapi
  4. Latihan fisik untuk meningkatkan toleransi aktivitas fisik
  5. Mukolitik dan ekspektoran
  6. Terapi oksigen jangka panjang bagi pasien yang mengalami gagal napas tipe II dengan PaO2 (7,3 Pa (55 MMHg)

Rehabilitasi, pasien cenderung menemui kesulitan bekerja, merasa sendiri dan terisolasi, untuk itu perlu kegiatan sosialisasi agar terhindar dari depresi.

IX. KOMPLIKASI

  1. Hipoxemia
  2. Asidosis Respiratory
  3. Infeksi Respiratory
  4. Gagal jantung
  5. Cardiac Disritmia
  6. Status Asmatikus
Pengkajian

Pengkajian mencakup informasi tentang gejala-gejala terakhir dan manifestasi penyakit sebelumnya. Berikut ini beberapa pedoman pertanyaan untuk mendapatkan data riwayat kesehatan dari proses penyakit:

  1. Sudah berapa lama pasien mengalami kesulitan pernapasan?
  2. Apakah aktivitas meningkatkan dispnea?
  3. Berapa jauh batasan pasien terhadap toleransi aktivitas?
  4. Kapan pasien mengeluh paling letih dan sesak napas?
  5. Apakah kebiasaan makan dan tidur terpengaruh?
  6. Riwayat merokok?
  7. Obat yang dipakai setiap hari?
  8. Obat yang dipakai pada serangan akut?
  9. Apa yang diketahui pasien tentang kondisi dan penyakitnya?

Data tambahan yang dikumpulkan melalui observasi dan pemeriksaan sebagai berikut:

  1. Frekuensi nadi dan pernapasan pasien?
  2. Apakah pernapasan sama tanpa upaya?
  3. Apakah ada kontraksi otot-otot abdomen selama inspirasi?
  4. Apakah ada penggunaan otot-otot aksesori pernapasan selama pernapasan?
  5. Barrel chest?
  6. Apakah tampak sianosis?
  7. Apakah ada batuk?
  8. Apakah ada edema perifer?
  9. Apakah vena leher tampak membesar?
  10. Apa warna, jumlah dan konsistensi sputum pasien?
  11. Bagaimana status sensorium pasien?
  12. Apakah terdapat peningkatan stupor? Kegelisahan?
  13. Palpasi:
    1. Palpasi pengurangan pengembangan dada?
    2. Adakah fremitus taktil menurun?
  14. Perkusi:
    1. Adakah hiperesonansi pada perkusi?
    2. Diafragma bergerak hanya sedikit?
  15. Auskultasi:
    1. Adakah suara wheezing yang nyaring?
    2. Adakah suara ronkhi?
    3. Vokal fremitus nomal atau menurun?

Diagnosa keperawatan utama pasien mencakup berikut ini:

  1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan bronkokontriksi, peningkatan produksi sputum, batuk tidak efektif, kelelahan/berkurangnya tenaga dan infeksi bronkopulmonal.
  2. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan napas pendek, mucus, bronkokontriksi dan iritan jalan napas.
  3. Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap kematian, keperluan yang tidak terpenuhi.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8 volume 2, EGC, Jakarta.

Grainger, Allison : Diagnostic Raddiology An Anglo American Textbook of Imaging, second edition, Churchil Livingstone, page : 122

Johnson, M. Maas, M and Moorhead, S. 2007. Nursing Outcomes Classifications (NOC). Second Edition. IOWA Outcomes Project. Mosby-Year Book, Inc. St.Louis, Missouri.

North American Nursing Diagnosis Association. 2012. Nursing Diagnosis : Definition and Classification 2012-2014. NANDA International. Philadelphia.

McCloskey, J.C and Bulechek, G.M. 2007. Nursing Intervention Classifications (NIC). Second Edition. IOWA Interventions Project. Mosby-Year Book, Inc. St.Louis, Missouri.

Penulis: Lisa permitasari, S.Kep

PENATALAKSANAAN PENYAKIT JANTUNG KONGESIF

Tujuan pengobatan adalah :

·          Dukung istirahat untuk mengurangi beban kerja jantung

·          Meningkatkan kekuatan dan efisiensi kontraktilitas miokardium dengan preparat farmakologi.

·          Membuang penumpukan air tubuh yang berlebihan dengan cara memberikan terapi antidiuretik, diit dan istirahat

Terapi Farmakologis :

–        Glikosida jantung

Digitalis, meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung dan memperlambat frekuensi jantung.

Efek yang dihasillkan : peningkatan curah jantung, penurunan tekanan vena dan volume darah dan peningkatan diurisi dan mengurangi oedema.

–        Terapi diuretic, diberikan untuk memacu ekskresi natrium dan air melalui ginjal. Penggunaan harus hati-hati karena efek samping hiponatremia dan hipokalemia.

–        Terapi vasodilator, obat-obat fasoaktif digunakan untuk mengurangi impadasi tekanan terhadap penyemburan darah oleh ventrikel. Obat ini memperbaiki pengosongan ventrikel dan peningkatan kapasitas vena sehingga tekanan pengisian ventrikel kiri dapat diturunkan.
Dukungan diit : pembatasan natrium untuk mencegah, mengontrol atau menghilangkan oedema.

 H.    PROSES KEPERAWATAN

1. Pengkajian

Pengkajian Primer

·    Airway :

Batuk dengan atau tanpa sputum, penggunaan bantuan otot pernafasan, oksigen, dll

·    Breathing :

Dispnea saat aktifitas, tidur sambil duduk atau dengan beberapa bantal

·     Circulation :

Riwayat HT IM akut, GJK sebelumnya, penyakit katub jantung, anemia, syok dll. Tekanan darah, nadi, frekuensi jantung, irama jantung, nadi apical, bunyi jantung S3, gallop, nadi perifer berkurang, perubahan dalam denyutan nadi juguralis, warna kulit, kebiruan punggung, kuku pucat atau sianosis, hepar ada pembesaran, bunyi nafas krakles atau ronchi, oedema

Pengkajian Sekunder

·          Aktifitas/istirahat
Keletihan, insomnia, nyeri dada dengan aktifitas, gelisah, dispnea saat istirahat atau aktifitas, perubahan status mental, tanda vital berubah saat beraktifitas.

·          Integritas ego : Ansietas, stress, marah, takut dan mudah tersinggung

·          Eliminasi
Gejala penurunan berkemih, urin berwarna pekat, berkemih pada malam hari, diare / konstipasi

·          Makanana/cairan
Kehilangan nafsu makan, mual, muntah, penambahan BB signifikan. Pembengkakan ekstremitas bawah, diit tinggi garam penggunaan diuretic distensi abdomen, oedema umum, dll

·          Hygiene : Keletihan selama aktifitas perawatan diri, penampilan kurang.

·          Neurosensori
Kelemahan, pusing, lethargi, perubahan perilaku dan mudah tersinggung.

·          Nyeri/kenyamanan
Nyeri dada akut- kronik, nyeri abdomen, sakit pada otot, gelisah

·          Interaksi social : penurunan aktifitas yang biasa dilakukan.

 I.       DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL

  • Penurunan kardiak output
  • Intoleransi aktifitas b.d. ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan O2
  • Pola nafas tidak efektif

  J.      Rencana Keperawatan

No

Diagnosa

Tujuan

Intervensi

1 Penurunan kardiak output NOC:Setelah dilakukan intervensi keperawatan pada klien selama 5×24 jamCirculation status-tekanan sistolik dbn

– tekaanann diastolic dbn

-ttv dbn

– tidak terjadi angina

– balance cairan 24 jam

– tidak ada asites

– tidak ada edema perifer

NIC :Cardiac Carev  Evaluasi adanya nyeri dada ( intensitas,lokasi, durasi)v  Catat adanya disritmia jantung

v  Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac putput

v  Monitor status kardiovaskuler

v  Monitor status pernafasan yang menandakan gagal jantung

v  Monitor abdomen sebagai indicator penurunan perfusi

v  Monitor balance cairan

v  Monitor adanya perubahan tekanan darah

v  Monitor respon pasien terhadap efek pengobatan antiaritmia

v  Atur periode latihan dan istirahat untuk menghindari kelelahan

v  Monitor toleransi aktivitas pasien

v  Monitor adanya dyspneu, fatigue, tekipneu dan ortopneu

v  Anjurkan untuk menurunkan stress

 

Fluid Management

  • Timbang popok/pembalut jika diperlukan
  • Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
  • Pasang urin kateter jika diperlukan
  • Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik ), jika diperlukan
  • Monitor hasil lAb yang sesuai dengan retensi cairan (BUN , Hmt , osmolalitas urin  )
  • Monitor vital sign sesuai indikasi penyakit
  • Monitor indikasi retensi / kelebihan cairan (cracles, CVP , edema, distensi vena leher, asites)
  • Monitor berat pasien sebelum dan setelah dialisis
  • Kaji lokasi dan luas edema
  • Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian
  • Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi cairan sesuai  program
  • Monitor status nutrisi
  • Berikan cairan
  • Kolaborasi pemberian diuretik sesuai program
  • Dorong masukan oral
  • Berikan penggantian nesogatrik sesuai output
  • Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
  • Batasi masukan cairan pada keadaan hiponatrermi dilusi dengan serum Na < 130 mEq/l
  • Monitor respon pasien terhadap terapi elektrolit
  • Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk
  • Atur kemungkinan tranfusi

 

Vital Sign Monitoring

  • Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
  • Catat adanya fluktuasi tekanan darah
  • Monitor kualitas dari nadi
  • Monitor adanya pulsus paradoksus
  • Monitor adanya pulsus alterans
  • Monitor jumlah dan irama jantung
  • Monitor bunyi jantung
  • Monitor frekuensi dan irama pernapasan
  • Monitor suara paru
  • Monitor pola pernapasan abnormal
  • Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
  • Monitor sianosis perifer
  • Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)
  • Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign

 

2 Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan suplai & kebutuhan O2 Klien dapat menoleransi aktivitasKriteria Hasil:

  • Berpartisipasi dalam aktivitas fisik dgn TD, HR, RR yang sesuai
  • Warna kulit normal,hangat&kering
  • Memverbalisasikan pentingnya aktivitas secara bertahap
  • Mengekspresikan pengertian pentingnya keseimbangan latihan & istirahat
  • ↑toleransi aktivitas

 

Activity therapy1. Menentukan penyebab intoleransi aktivitas&menentukan apakah penyebab dari fisik, psikis/motivasi2. Kaji kesesuaian aktivitas&istirahat klien sehari-hari3. ↑ aktivitas secara bertahap, biarkan klien berpartisipasi dapat perubahan posisi, berpindah&perawatan diri

4. Pastikan klien mengubah posisi secara bertahap. Monitor gejala intoleransi aktivitas

5. Ketika membantu klien berdiri, observasi gejala intoleransi spt mual, pucat, pusing, gangguan kesadaran&tanda vital

6. Lakukan latihan ROM jika klien tidak dapat menoleransi aktivitas

3 Pola nafas tidak efektif b/d kelemahan NOC:Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 5x 24 jam, pola nafas pasien menjadi efektif.Criteria hasil:

  • menunjukkan pola nafas yang efektif tanpa adanya sesak nafas
Respiratory monitoring:-     monitor rata-rata irama, kedalaman dan usaha untuk bernafas.-     Catat gerakan dada, lihat kesimetrisan, penggunaan otot Bantu dan retraksi dinding dada.-     Monitor suara nafas

Oksigen terapi

v  Pertahankan jalan nafas yang paten

v  Atur peralatan oksigenasi

v  Monitor aliran oksigen

v  Pertahankan posisi pasien

v  Onservasi adanya tanda tanda hipoventilasi

v  Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddart. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Vol 2. Jakarta: EGC.

Carpenito, L. J. 2001. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, Diagnosa Keperawatan dan Masalah Keperawatan. Jakarta:  EGC. Diane, Boughman. 2000.

Johnson, M. Maas, M and Moorhead, S. 2007. Nursing Outcomes Classifications (NOC). Second Edition. IOWA Outcomes Project. Mosby-Year Book, Inc. St.Louis, Missouri.

North American Nursing Diagnosis Association. 2012.  Nursing Diagnosis :Definition and Classification 2012-2014. NANDA International. Philadelphia.

Noer,S et al. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

McCloskey, J.C and Bulechek, G.M. 2007. Nursing Intervention Classifications (NIC). Second Edition. IOWA Interventions Project. Mosby-Year Book, Inc. St.Louis, Missouri.

Penulis : Lisa Permitasari, S.Kep