DAFTAR RUMAH SAKIT DI KABUPATEN SLEMAN

1 RSUP   dr. SARJITO Pemerintah Pusat Jl. Kesehatan Sekip Yogyakarta Mlati

2 RS GIGI DAN MULUT Prof.SOEDOMO

3 RSUD   SLEMAN Pemda Sleman Jl. Bhayangkara Morangan Sleman

4 RSUD   PRAMBANAN Pemda Sleman Jl. Piyungan Prambanan Sumberharjo Prambanan

5 RS PANTI NUGROHO Yysn Panti Rapih jl Kaliurang KM 17, Pakem

6 RS PANTI RINI Yysn Panti Rapih jl. Solo KM 12,5, Tirtomartani Kalasan

7 RS PANTI BHAKTININGSIH Yayasan Kesejahteraan Kesehatan rakyat Santo Fransiskus Klepu, Sendangmulyo Minggir

8 RS PURI HUSADA PT. Husada Eduka Holistika jl. Palagan Tentara Pelajar, Sariharjo Ngaglik

9 RS PDHI jl Solo KM       , Purwomartani Kalasan

10 RS JIH Yayasan PT. Unisia Medika Farma. JL. Ringroad Utara, Condongcatur Depok

11 RS CONDONGCATUR PT. Karya Mitra Pratama Gempol RT 02/11, Condongcatur Depok

12 RS BHAYANGKARA Bid DoKes Polda DIY JL Yogya-Solo, Km 14, Tirtomartani Kalasan

13 RS AT-TUROTS *) Yayasan Majelis At-Turost Al-Islamy Klaci I, Margoluwih Seyegan

14 RS QUEEN LATIFA PT. Queen latifa Husada Jaya jl. Ringroad Barat, Mlangi,Nogotirto Gamping

15 RSK GRHASIA

16 RS LOKAPALA

17 RS MITRA PARAMEDIKA Yayasan Mitra Medika Kemasan Widodomartani Ngemplak Sleman Ngemplak

18 RS DHARMA *) Yayasan Dharma Jl Yogya-Wonosari Berbah

19 RSKIA SAKINA IDAMAN Mlati

20 RSKIA SADEWA Yayasan Semar Babarsari TB XVI No. 13B Yogyakarta Depok

21 RSK BEDAH  AN-NUUR Budi Gunawan Jl. Samirono Baru No. 14-16 Yogyakarta Depok

22 RSU PKU MUHAMADIYAH dr. Ahmad faesol, Sp.Rad JL. Wates Km. 5,5 Gamping Sleman Gamping

Sumber: http://dinkes.slemankab.go.id/

DAFTAR RUMAH SAKIT DI YOGYAKARTA

NO

NAMA

ALAMAT

TELP.

1. Yogyakarta Emergency Services (YES) Pusat Komunikasi : PMI Cabang Kota Yogyakarta
Jl.  Tegalgendu  25 Kotagede Yogyakarta
118
2. RS Dr. Sardjito Jl. Kesehatan No. 1 Sekip Yogyakarta (0274) 587333
3. RSUD Kota Yogyakarta Jl. Wirosaban No. 1 Yogyakarta (0274) 371195
4. RS Bethesda Jl. Jend. Sudirman No. 70 Yogyakarta (0274) 562246
5. RS Bethesda Lempuyangwangi Jl. Hayam Wuruk No. 6 Yogyakarta (0274) 588002, 512257
6. RS Panti Rapih Jl. Cik Ditiro No. 30 Yogyakarta (0274) 563333, 514845
7. RS PKU Muhammadiyah Jl. KHA Dahlan No. 20 Yogyakarta (0274) 512653
8. RS Mata “Dr. YAP” Jl. Cik Ditiro No. 5 Yogyakarta (0274) 562054, 547448
9. RS DKT/ RS Dr. Soetarto Jl. Jawadi 19 Yogyakarta (0274) 555402
10. RS Happy Land Medical Center Jl. Ipda Tut Harsono (timoho) 53 Yogyakarta (0274) 550060
11. RSI Hidayatullah Jl. Veteran 184 Yogyakarta (0274) 389194
12. RS Ludiro Husada Tama Jl. Wiratama 4 Yogyakarta (0274) 620333, 620373
13. RSK Anak Empat Lima (45) Jl. Patangpuluhan 35 Yogyakarta (0274) 376962
14. RSK Bedah Soedirman Jl. Sidobali UH II/402 Yogyakarta (0274) 589090
15. RSK Puri Nirmala Jl. Jayaningprangan 13 Yogyakarta (0274) 515255
16. RS Mata Dokter YAP Jl. Teuku Cik Ditiro 5 Yogyakarta (0274) 584423
17. RS Permata Bunda Jl. Ngeksigondo 56 Yogyakarta (0274) 376092
18. RS Bakti Ibu Jl. Golo 32 Yogyakarta (0274) 383008

Sumber: http://www.jogjakota.go.id

BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)

PENGERTIAN

Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badannya < 2500 gram tanpa memperhatikan usia gestasi.

PENGGOLONGAN

  1. Bayi Berat Lahir Rendah dapat digolongkan menjadi 2, yaitu:
  2. Prematur Murni/Bayi Kurang Bulan

Masa gestasi < 37 minggu (259 hari) dan berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi itu, atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan (NKB-SMK).

  1. Dismaturitas/Bayi Kecil Masa Kehamilan

Bayi lahir dengan berat badan kurang dari seharusnya untuk masa gestasi itu, bayi mengalami retardasi pertumbuhan intra uterin dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya tersebut (KMK).

Berat badan kurang dari seharusnya yaitu dibawah persentil ke-10 (kurva pertumbuhan  intra uterin Usher Lubchenco) atau dibawah 2 Standar Deviasi (SD) (kurva pertumbuhan intra uterin Usher dan Mc. Lean).

  1. Berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya, bayi berat lahir rendah dibedakan dalam:
    1. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), beratlahir 1500-2499 gram.
    2. Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR), berat lahir < 1500 gram.
    3. Bayi Berat Lahir Ekstrim rendah (BBLER), berat lahir < 1000 gram.
    4. Berdasarkan berat badan menurut usia kehamilan dapat digolongkan:
      1. Kecil Masa Kehamilan (KMK) yaitu jika bayi lahir dengan BB dibawah persentil ke-10 kurva pertumbuhan janin.
      2. Sesuai Masa Kehamilan (SMK) yaitu jika bayi lahir dengan BB diantara persentil ke-10 dan ke-90 kurva pertumbuhan janin.
      3. Besar Masa Kehamilan (BMK) yaitu jika bayi lahir dengan BB diatas persentil ke-90 pada kurvapertumbuhan janin.

PENYEBAB

  1. Prematur murni dapat disebabkan oleh:
  1. Faktor Ibu

1).       Umur (< 20 tahun).

2).       Paritas.

3).       Ras.

4).       Infertilitas.

5).       Riwayat kehamilan tak baik.

6).       Rahim abnormal.

7).       Jarak kelahiran terlalu dekat.

8).       BBLR pada anak sebelumnya.

9).       Malnutrisi sebelum hamil (pertambahan berat badan kurang selama hamil).

10).   Penyakit akut dankronik.

11).   Kebiasaan tidak baik (pengobatan selama hamil, merokok, alkohol, radiasi).

12).   Keadaan penyebab insufisiensi plasenta (penyakit jantung, ginjal, paru, hipertensi, DM, preeklamsi).

13).   Keadaan sosial ekonomi (status gizi dan pengawasan ANC yang kurang baik).

  1. Faktor Plasenta

1)            Penyakit vaskuler.

2)            Kehamilan ganda.

3)            Malformasi.

4)            Tumor.

  1. Faktor Janin

1)            Kelainan kromosom.

2)            Malformasi.

3)            Infeksi bawaan yang didapat dalam kandungan (misal; TORCH).

4)            Kehamilan ganda.

2. Dismaturitas

Penyebab dismaturitas ialah setiap keadaan yang mengganggu pertukaran zat antara ibu dan janin.

GEJALA KLINIS

Secara umum gambaran klinis pada bayi berat badan lahir rendah sebagai berikut:

  1. Berat badan lahir < 2500 gram, panjang badan £ 45 Cm, lingkar dada < 30 Cm, lingkar kepala < 33 Cm.
  2. Masa gestasi < 37 minggu.
  3. Penampakan fisik sangat tergantung dari maturitas atau lamanya gestasi; kepala relatif lebih besar dari badan, kulit tipis, transparan, banyak lanugo, lemak sub kutan sedikit, osifikasi tengkorak sedikit, ubun-ubun dan sutu lebar, genetalia immatur, otot masih hipotonik sehingga tungkai abduksi, sendi lutut dan kaki fleksi, dan kepala menghadap satu jurusan.
  4. Lebih banyak tidur daripada bangun, tangis lemah, pernafasan belum teratur dan sering terjadi apnea, refleks menghisap, menelan, dan batuk belum sempurna.

Gangguan yang mungkin terjadi pada bayi BBLR antara lain:

  1. Pusat pengaturan suhu tubuh yang belum matur.
  2. Sistem immunologi belum berkembang dengan baik sehingga rentan infeksi.
  3. Sistem saraf pusat belum matur menyebabkan perdarahan periventrikuler.
  4. Sistem pernafasan belum matur terutama paru-paru menyebabkan mudah terkena penyakit membran hyalin.
  5. Immaturitas hepar sehingga metabolisme bilirubin terganggu (hiperbilirubinemia).

PEMERIKSAAN PENUNJANG

  1. Radiologi
  • Foto thoraks/baby gram pada bayi baru lahir dengan usia kehamilan kurang bulan, dapat dimulai pada umur 8 jam.
  • USG kepala terutama pada bayi dengan usia kehamilan 35 minggu dimulai pada umur 2 hari.
  1. Laboratorium
  • Darah rutin
  • Gula darah (8–12 jam post natal).
  • Analisa gas darah
  • Elektrolit darah (k/p)
  • Tes kocok/shake test

Interpretasi:

1)      (+)   : Bila terdapat gelembung-gelembung yang membentuk cincin artinya surfaktan terdapat dalam paru dengan jumlah cukup.

2)      (-)    : Bila tidak ada gelembung berarti tidak ada surfaktan.

3)      Ragu : Bila terdapat gelembung tapi tidak ada cincin.

KOMPLIKASI

  1. Sindroma aspirasi mekonium (kesulitan bernafas).
  2. Hipoglikemi simtomatik.
  3. Asfiksis neonatorum
  4. Penyakit membran hialin.
  5. Hiperbilirubinemia.
PENATALAKSANAAN

Setelah bayi lahir dilakukan:

1.Tindakan Umum

  1. Membersihkan jalan nafas.
  2. Mengusahakan nafas pertama dan seterusnya.
  3. Perawatan tali pusat dan mata.

2.Tindakan Khusus

  1. Suhu tubuh dijaga pada 36,5-37,5 oC pengukuran aksila, pada bayi barulahir dengan umur kehamilan 35 minggu perlu perhatian ketat, bayi dengan BBL 2000 garm dirawat dalam inkubator atau dengan boks kaca menggunakan lampu.
  2. Awasi frekwensi pernafasan pada 24 jam pertama untuk mengetahui sindroma aspirasi mekonium.
  3. Setiap jam hitung frekwensi pernafasan, bila > 60x/mnt lakukan foto thorax.
  4. Berikan oksigen sesuai dengan masalah pernafasan yang didapat.
  5. Pantau sirkulasi dengan ketat (denyut jantung, perfusi darah, tekanan darah).
  6. Awasi keseimbangan cairan.
  7. Pemberian cairan dan nutrisi bila tidak ada masalah pernafasan dan keadaan umum baik:

1)      Berikan makanan dini  early feeding untuk menghindari terjadinya hipoglikemia.

2)      Periksa kadar gula darah 8–12 jam post natal.

3)      Periksa refleks hisap dan menelan.

4)      Motivasi pemberian ASI.

5)      Pemberian nutrisi intravena jika ada indikasi, nutrien yangdapat diberikan meliputi; karbohidrat, lemak, asam amino, vitamin, dan mineral.

6)      Berikan multivitamin jika minum enteral bisa diberikan secara kontinyu.

  1. Tindakan pencegahan infeksi:

1)      Cara kerja aseptik, cuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi.

2)      Mencegah terlalu banyak bayi dalam satu ruangan.

3)      Melarang petugas yang menderita infeksi masuk ke tempat bayi dirawat.

4)      Pemberian antibiotik sesuai dengan pola kuan.

5)      Membatasi tindakan seminimal mungkin.

  1. Mencegah perdarahan berikan vitamin K 1 mg dalam sekali pemberian.

PROGNOSIS

Tergantung dari berat ringannya masalah perinatal, seperti; masa gestasi (semakin muda dan semakin rendah berat badan bayi makin tinggi angka kematiannya), komplikasi yang menyertai (asfiksia/iskemia, sindrom gangguan pernafasan, perdarahan intra ventrikuler, infeksi, gangguan metabolik, dll).

MASALAH KEPERAWATAN YANG SERING MUNCUL
  1. Neonatal jaundice
  2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
  3. Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh
  4. Termoregulasi tidak efektif
  5. Hipotermia
  6. Hipertermia
  7. Ketidakefektifan pemberian ASI
  8. Risiko infeksi
  9. Risiko aspirasi

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dochterman, J.M., Bulecheck, G.N. 2004. Nursing Interventions Classification (NIC) 4th Edition. Missouri: Mosby.

Etika, R., Harianto, A.,  Indarso F., Damanik,S.M. Divisi Neonatologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo – Surabaya. Hiperbilirubinemia pada Neonatus. Diakses 14 maret  2012. Website URL http://www.pediatrik.com/pkb/20060220-js9khg-pkb.pdf

Herdman, T.H. 2009. NANDA Nursing Diagnoses Definition and Classification 2009-2011. UK: Wiley-Blackwell.

Hockenberry, M.J. 2005. Wong’s Essentials of Pediatric Nursing 7th Edition. Elsevier: Philadelphia.

James, S.R., Ashwill , J.W. 2007. Nursing Care of Children Principle and Practice. Elsevier: Philadelphia.

Moprhead, S., Johnson, M., Mass, M.L., Swanson, E. 2004. Nursing Outcomes Classification (NOC) 4th Edition. Missouri: Mosby.

Nelson. 2002. Ilmu Kesehatan Anak. Bagian 3. Edisi 12. Jakarta: EGC.

Wilson, M.N. dan Price, A.S. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta: EGC

Ditulis oleh: Lisa Permitasari, S.Kep

ACUTE LYMPHOBLASTIC LEUKEMIA

I.     DEFINISI

Leukemia Limfositik Akut (LLA) adalah suatu penyakit yang berakibat fatal, dimana sel-sel yang dalam keadaan normal berkembang menjadi limfosit berubah menjadi ganas dan dengan segera akan menggantikan sel-sel normal di dalam sumsum tulang. LLA merupakan leukemia yang paling sering terjadi pada anak-anak. Leukemia jenis ini merupakan 25% dari semua jenis kanker yang mengenai anak-anak di bawah umur 15 tahun. Paling sering terjadi pada anak usia antara 3-5 tahun, tetapi kadang terjadi pada usia remaja dan dewasa. Sel-sel yang belum matang, yang dalam keadaan normal berkembang menjadi limfosit, berubah menjadi ganas. Sel leukemik ini tertimbun di sumsum tulang, lalu menghancurkan dan menggantikan sel-sel yang menghasilkan sel darah yang normal. Sel kanker ini kemudian dilepaskan ke dalam aliran darah dan berpindah ke hati, limpa, kelenjar getah bening, otak, ginjal dan organ reproduksi; dimana mereka melanjutkan pertumbuhannya dan membelah diri. Sel kanker bisa mengiritasi selaput otak, menyebabkan meningitis dan bisa menyebabkan anemia, gagal hati, gagal ginjal dan kerusakan organ lainnya.

II.   ETIOLOGI

Penyebab LLA dewasa sebagian besar tidak diketahui. Pada anak-anak: faktor keturunan dan sindroma predisposisi genetic

  1. Faktor risiko
    1. Radiasi dosis tinggi : Radiasi dengan dosis sangat tinggi, seperti waktu bom atom di Jepang pada masa perang dunia ke-2 menyebabkan peningkatan insiden penyakit ini. Terapi medis yang menggunakan radiasi juga merupakan sumber radiasi dosis tinggi. Sedangkan radiasi untuk diagnostik (misalnya rontgen), dosisnya jauh lebih rendah dan tidak berhubungan dengan peningkatan kejadian leukemia.
    2. Pajanan terhadap zat kimia tertentu : benzene, formaldehida
    3. Kemoterapi : Pasien kanker jenis lain yang mendapat kemoterapi tertentu dapat menderita leukemia di kemudian hari. Misalnya kemoterapi jenis alkylating agents. Namun pemberian kemoterapi jenis tersebut tetap boleh diberikan dengan pertimbangan rasio manfaat-risikonya
    4. Sindrom Down : Sindrom Down dan berbagai kelainan genetik lainnya yang disebabkan oleh kelainan kromosom dapat meningkatkan risiko kanker.
    5. Human T-Cell Leukemia Virus-1(HTLV-1). Virus tersebut menyebabkan leukemia T-cell yang jarang ditemukan. Jenis virus lainnya yang dapat menimbulkan leukemia adalah retrovirus dan virus leukemia feline.
    6. Sindroma mielodisplastik : sindroma mielodisplastik adalah suatu kelainan pembentukkan sel darah yang ditandai berkurangnya kepadatan sel (hiposelularitas) pada sumsum tulang. Penyakit ini sering didefinisikan sebagai pre-leukemia. Orang dengan kelainan ini berisiko tinggi untuk berkembang menjadi leukemia.
    7. Merokok : ↑ risiko LLA pada usia > 60 tahun

Manifestasi klinis

–     Anemia: mudah lelah, letargi, pusing, sesak, nyeri dada

–    Anoreksia

–    Nyeri tulang dan sendi (infiltrasi sumsum tulang)

–     Demam, banyak berkeringat (gejala hipermetabolisme)

–    Infeksi mulut, saluran napas atas dan bawah, selulitis, atau sepsis

–    Perdarahan kulit (petechiae, atraumatic ecchymosis), perdarahan gusi, hematuria, perdarahan saluran cerna, perdarahan otak

–    Organomegali (hepatomegali, splenomegali, limfadenopati)

–    Massa di mediastinum (sering pada LLA sel T)

–    Leukemia sistem saraf pusat: nyeri kepala, muntah (gejala ↑ tekanan intrakranial), perubahan status mental, kelumpuhan saraf otak terutama saraf VI dan VII, kelainan neurologik fokal

–    Keterlibatan organ lain: testis, retina, kulit, pleura, perikardium, tonsil.

Diagnosis

Pendekatan diagnosis:

  1. Anamnesis
  • Anemia, sering demam, perdarahan, berat badan turun, anoreksia, kelemahan umum.
  • Keluhan pembesaran kelenjar getah bening dan perut.
  • Pemeriksaan fisik
  • Anemis dan tanda perdarahan : mukosa anemis, perdarahan, ulsera, angina Ludwig
  •  Pembesaran kelenjar limfe general
  •  Splenomegali, kadang hepatomegali.
  • Pada jantung terjadi gejala akibat anemia
  • Infeksi pada kulit, paru, tulang.
  1. Pemeriksaan laboratorium: Hitung darah lengkap

–        Apusan darah tepi

–        Pemeriksaan koagulasi

–        Kadar fibrinogen

–        Kimia darah

–        Golongan darah ABO dan Rh

–        Penentuan HLA

  1. Foto toraks atau CT
  2. Pungsi lumbal
  3. Aspisrasi dan biopsi sumsum tulang: pewarnaan sitokimia, analisis sitogenetik, analisis imunofenotip, analisis molekuler BCR-ABL

Tahap-tahap diagnosis leukemia akut:

1)      Klinis

–          Adanya gejala gagal sumsum tulang: anemia, perdarahan, dan infeksi, sering disertai gejala hiperkatabolik

–          Sering dijumpai organomegali: limfadenopati, hepatomegali, atau splenomegali

2)      Darah tepi dan sumsum tulang

–          Blast dalam darah tepi > 5%

–          Blast dalam sumsum tulang > 30%

Dari kedua pemeriksaan di atas kita dapat membuat diagnosis klinis leukemia akut. Langkah berikutnya adalah menentukan jenis leukemia akut yang dihadapi

3)      Tentukan jenisnya: dengan pengecatan sitokimia ditentukan klasifikasi FAB. Jika terdapat fasilitas, lakukan:

–          Immunophenotyping

–          Pemeriksaan sitogenetika (kromosom)

–          Gambaran laboratorium:

a)      Hitung darah lengkap:

  • Leukosit n/↑/↓, hiperleukositosis (>100.000/mm3) terjadi pada kira-kira 15% kasus
  • Anemia normokromik-normositer (berat dan timbul cepat) dan trombositopenia (1/3 pasien mempunyai hitung leukosit < 25.000/mm3)
  • Apusan darah tepi: khas menunjukkan adanya sel muda (mieloblast, promielosit, limfoblast, monoblast, eritroblast, atau megakariosit) yang melebihi 5% dari sel berinti pada darah tepi. Sering dijumpai pseudo Pelger-Huet Anomaly, yaitu netrofil dengan lobus sedikit (dua atau satu) yang disertai dengan hipo atau agranular.

b)      Aspirasi dan biopsi tulang

  • Hiperseluler dengan limfoblas yang sangat banyak
  • Lebih dari 90% sel berinti pada LLA dewasa
  • Tampak monoton oleh sel blast

–          Imunofenotip (dengan sitometri arus/flow cytometry)

–          Sitogenetik

–          Biologi moleculer

–          Pemeriksaan lain

–          Klasifikasi FAB:

a)      L1 – Small cells with homogeneous chromatin, regular nuclear shape, small or absent nucleolus, and scanty cytoplasm; subtype represents 25-30% of adult cases

b)      L2 – Large and heterogeneous cells, heterogeneous chromatin, irregular nuclear shape, and nucleolus often large; subtype represents 70% of cases (most common)

c)      L3 – Large and homogeneous cells with multiple nucleoli, moderate deep blue cytoplasm, and cytoplasmic vacuolization that often overlies the nucleus (most prominent feature); subtype represents 1-2% of adult cases

  1. Penatalaksanaan
    Tahapan terapi LLA:

    1. 1.      Terapi induksi remisi
  • tujuan: eradikasi sel leukemia yang dapat dideteksi secara morfologi dalam darah dan sumsum tulang dan kembalinya hematopoiesis normal
  • Terapi ini biasanya terdiri dari prednison, vinkristin, dan antrasiklin (pada umumnya daunorubistin) dan juga L-asparginase
  1. 2.      Terapi intensifikasi atau konsolidasi
  • Tujuan: eliminasi sel leukemia residual untuk mencegah relaps dan juga timbulnya sel yang resisten obat.
  1. 3.      Profilaksis SSP
  • Profilaksis SSP sangat penting pada pasien LLA. Sekitar 50 – 75% pasien LLA yang tidak mendapat terapi ini akan mengalami relaps pada SSP
  • terdiri dari kombinasi kemoterapi intrarektal, radiasi kranial, dan pemberian sistemik obat yang mempunyai bioavalibilitas SSP yang tinggi seperti metotreksat dosis tinggi dan sitarabin dosis tinggi.
  1. 4.      Pemeliharaan jangka panjang

Terapi ini tersiri dari 6-merkaptopurin tiap hari dan metotreksat seminggu sekali selama 2 – 3 tahun

Protokol pengobatan menurut IDAI ada 2 macam yaitu :

  • Protokol half dose metothrexate (Jakarta 1994) lihat Lampiran
  • Protokol Wijaya Kusuma (WK-ALL 2000) lihat lampiran
  1. Prognosis

–          Kebanyakan pasien LLA dewasa mencapai remisi tapi tidak sembuh dengan kemoterapi saja, dan hanya 30% yang bertahan hidup lama.

–          Kebanyakan pasien yang sembuh dengan kemoterapi adalah usia 15 – 20 tahun dengan faktor prognostik baik lainnya.

–          Overall disease-free survival rate untuk LLA dewasa kira-kira 30%

KOMPLIKASI

    1. Kematian mungkin terjadi karena infeksi (sepsis) atau perdarahan yang tidak terkontrol
    2. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah kegagalan leukemia untuk berrespon terhadap kemoterapi.
    3. PATOGENESIS

Daftar Pustaka

Johnson M, Maas M, Moorhead S., Swanson, E. 2008. IOWA Outcome Project: Nursing Outcomes Classification (NOC). 4th ed. Missouri; Mosby, Inc

Mc Closkey, JC., Butcher, HK.,  Bulechek GM. 2008. IOWA Outcome Project: Nursing Interventions Classification (NIC). 5h ed. Missouri; Mosby, Inc

North American Nursing Diagnosis Association. 2010. Nursing Diagnoses : Definition & Classification 2009-2011. Philadelphia

Permono, B., Ugrasena, IDG, Ratwita, M. 2006. Leukemia Limfoblastik Akut. Bag/ SMF Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya, available from www.pediatrik.com, didownload tanggal 19 Januari 2012

Nathan DB, Oski FA. Hematology of Infancy and Childhood 2nd ed. Philadelphia : WB Saunders, 2000 : 979.

Ditulis oleh: Lisa Permitasari, S.Kep

CONTOH REKAM MEDIS YANG DIGUNAKAN DI RUMAH SAKIT 4

RS MANDIRI SEHAT                                                            NO.CM:

RINGKASAN CATATAN PERKEMBAGAN ASUHAN KEPERAWATAN

Nama Pasien  :Jenis Kelamin :

Pekerjaan       :

Bangsal          :

 

Usia   :Kamar :
Tanggal/Jam Subyaktif, Obyektif, Analisa, Planing, Intervensi (SOAPI) Evaluasi Revisi Nama dan Tanda Tangan Perawat
 

CONTOH REKAM MEDIS YANG DIGUNAKAN DI RUMAH SAKIT 3

RS MANDIRI SEHAT                                                                                NO.CM:

RINGKASAN SETELAH PASIEN KELUAR DAR RUMAH SAKIT Nama Pasien  :Jenis Kelamin :

Pekerjaan       :

Bangsal          :

 

Usia     :Kamar :
Nama Ayah/Suami:                                                                      Alamat          :Nama Ibu/Istri        :                                                                      No. Telp/HP :
KELUHAN UTAMA

RIWAYAT PENYAKIT

PEMERIKSAAN FISIK

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

PEMERIKSAAN PENUNJANG

DIAGNOSIS/MASALAH YANG ADA

DIAGNOSIS KEPERAWATAN

PENATALAKSANAAN

OBAT

TINDAKAN

PERAWATAN KHUSUS

 

CONTOH REKAM MEDIS YANG DIGUNAKAN DI RUMAH SAKIT 2

RS MANDIRI SEHAT                                                                                NO.CM:

RENCANA PENGELOLAAN DAN CATATAN PERKEMBANGAN Nama Pasien  :Jenis Kelamin :

Pekerjaan       :

Bangsal          :

 

Usia   :Kamar :
Diisi rencana pemeriksaan, tindakan, perawatan  dan semua tindakan medis sesuai SOAP
Tanggal/jam Masalah/Diagnosis Rencana Pengelolaan Nama lengkap Dokter/ Perawat yang merawat. Catatan Perkembangan